Hindari Pencuri Energi

Satu langkah sederhana untuk menciftakan kehidupan yang penuh keberlimpahan.

Jaman sekarang ini mulai tidak cukup hanya dengan memiliki kecerdasan mengelola waktu, tapi mulai bergeser pada pengembangan kekecerdasan mengelola Energi lebih diutamakan.

Saat kita dalam energi peak state apapun yang kita lakukan, dimanapun dan kapanpun baik siang atau malam hasilnya akan sangat luar biasa.

“Energi dan kegigihan menaklukan semua hal”

Energi yang kuat mendorong kita pada tujuan besar dan kebahagian kita. Ada sesuatu dalam hidup yang menghabiskan energi dan menambah energi kita.

Jangan remehkan pentingnya energi, Jagalah dengan baik.

Dalam proses pembinaan kami, banyak menekankan aktivitas yg menghasilkan energi dan menghilangkan hal-hal yang menghabiskan energi dalam kehidupan ini.

Saat kita bekerja dengan energi yang lemah, kita merasa tidak sehat, merasa tidak bahagia, mengirimkan getaran yang rendah, sementara sering sekali anda menarik apa yang ada kirimkan! Berhenti melakukan atau mengekpos diri anda pada hal-hal yg menghabiskan energi, diantaranya seperti kebiasaan makan yang tidak sehat, pola tidur yang salah, malas berolahraga, tergantung pada obat2tan, alkohol, rokok, kafein, gula, berita & lingkungan negatif, tidak fokus, marah berlebihan dan sedih berlebihan, mengkonsumsi bahkan posting emosi negatif di sosmed. Semua ini menghabiskan energi kita.

Berhati-hatilah dengan “Vampire Energi” pengisap energi diantara lingkungan masyarakat, sahabat dan bahkan keluarga kita.

Jadilah egois dengan mengelola energi anda:
1. Singkirkan ganguan
2. Selesaikan urusan2 yg belum selesai
3. Jadilah rendah hati, pemaaf dan Perbaiki toleransi
4. Ucapkan selamat tinggal pada semua orang yang pencuri energi dan selamat datang kepada pembangkit energi

Renungkan Pertanyaan ini:
1. Apa saja pencuri energi dalam hidup dan bisnis saya?
2. Apa yang akan saya lakukan setelah menyadarinya?

Semangat pagi salam dasyat luar biasa

Jayeng Saputra

Keberlimpahan adalah Ramalan masa depan dunia

Perenungan di jalan Mahatma gandi

Perenungan yg begitu dalam setelah diskusi masa depan antara hati dan pikiran.

Di kupas dari salah satu bukunya Peter Diamandis:
Abundance: The Future is Better
tentang ulasan ilmiah bagaimana ini semua sedang terjadi sekarang, dan akan berjalan lebih massif lagi.

bagaimana mengubah pola pikir dan strategi bisnis dari serba ingin bersaing (scarcity mentality) menjadi serba ingin berkreasi tanpa mengganggu siapapun

Kali ini Eranya “Disruption”, tapi bagaimana caranya kita move on dan fokus Persiapan Menyongsong Era “Abundance”.

Salah satu teman hebat bilang
“kalau anda ingin jadi pemain bola yg baik, cukup arahkan pandangan mata kearah bolanya. Tapi kalau anda ingin jadi pemain bola HEBAT, arahkan mata dan permainan anda ke arah dimana bola AKAN MENUJU”.

Era “DISRUPTION” adalah dimana bolanya SEKARANG. Era “ABUNDANCE” adalah kemana bolanya AKAN MENUJU.

Kalau kita masih juga membahas wacana dan menghabiskan waktu kita bicara era disruption, kita akan jadi pemain yg baik. Tapi kalau kita menginginkan jadi pemain yg sukses besar (hebat), kita harus arahkan energi pikiran dan ikhtiar anda untuk menyongsong era abundance.

Biar jelas, kita bahas dulu, apa yg dimaksud dengan era
disruption (gangguan)
vs
era abundance (keberlimpahan).

Ini berawal dari seorang manusia hebat ( bilang aja begitu karena lupa siapa itu ) Di tahun 1999 beliau menulis buku “The Age of Spiritual Machines” dan mengeluarkan thesis tentang “The Law of Accelerating Return“.

Menurut penelitian beliau, Law of Moore tidak hanya berlaku dalam 50 tahun terakhir, tapi polanya telah hadir sejak 120 tahun terakhir, di mana teknologi bergerak secara eksponensial. Artinya, kecepatan prosesor komputer, daya tampung hard disk, dan segala hal yg disentuh keajaiban teknologi informasi, berlipat dua setiap 18 bulan, atau jadi lebih murah setengahnya.

Maka itu sebabnya, gabungan teknologi yg ada di HP kita sekarang ini, harganya 1/10.000 dari 25 tahun lalu, dimana saat itu total harganya sekitar 1 juta dolar = Rp. 13 Milyar (karena di situ ada GPS, gyroscope, mesin fax, video recorder, radio, TV, kamera foto, ensiklopedi, kamus, telepon, scannner. dll).

Orang ini, membuktikan bahwa kemajuan teknologi secara eksponensial ini melalui 6 tahapan, yg beliau sebut dengan

6D of Exponential Growth“, yaitu:

1. Digitalization (Transformasi dari analog menuju digital di hampir semua sektor)

2. Deception (Banyak orang terlena karena awalnya kelihatan pelan dan cuman riak2 kecil, sampai pertumbuhan eksponensialnya menyentuh “knee of the curve” alias “titik lejit”)

3. Disruption (Titik lejit menjadi reaksi atom yg mengguncang kemapanan. Ini yg sedang kita ributkan sekarang dan bikin banyak orang dan perusahaan panik. Tapi ini hanya fase transisi menuju 3D terakhir)

4. Dematerialization (semua produk kehilangan wadah fisik untuk ditransfer di “Cloud” alias awan digital tak bertepi.

5. Demonetization (Di dalam “awan digital” tempat menyimpan segala hal itu hampir semua biaya jadi turun drastis. Buku, musik, film, ilmu, informasi, komunikasi, dll tiba2 jadi membludak volumenya, dan makin lama makin murah harganya)

6. Democratization (Pada puncaknya, karena semua serba berkelimpahan dan berbiaya minimal sekali, maka terjadilah era “Abundance” atau disebut “Free Economy” dan “Sharing Economy”.

Sebenarnya kita sudah merasakan icip-icip dari Free Economy ini: Kirim surat gratis (email), telpon interlokal gratis (WA call), ada sekolah gratis (khannacademy), kuliah gratis (coursera), Buku gratis (pdfdrive.net), film dan musik gratis (youtube), rekaman ceramah, seminar dan training gratis (youtube), disain gratis (canva),main game gratis (anak saya yg tahu ini), kumpul2 ngobrol bareng 50 orang dari segala penjuru dunia gratis (zoom ) , Penginapan gratis (couchsurging), dll.

Dan kegratisan (atau minimal harga murah sekali sehingga terjangkau untuk semua orang) ini makin lama akan makin masif, karena akan menular ke segala bidang yg lain, terutama energy, air, makanan, barang2, transportasi dan kesehatan.

Diperkirakan Free Economy akan hampir meliputi segala hal saat terjadi yg disebut era “Singularity”, Yaitu saat Kecepatan processing komputer seharga 1000 dolar sudah menyamai kemampuan prosessing otak manusia. Makalan seru iii ( meriinding )

Saat itu terjadi, jenis pekerjaan yg ada saat itu 65% belum kita jumpai sekarang. Robot dan komputer mengambil alih 50% pekerjaan otot dan otak manusia. Maka manusia jadi bisa fokus ke pekerjaan2 yg lebih bermartabat yg menggunakan “advanced brain” (kreatifitas, dll) beserta “hati dan jiwa” (kecerdasan emosi, sosial, spiritual) yg tidak dimiliki robot & komputer Atau dengan menggunakan “teknopati”, ( hahah contoh saja ) kemampuan otak kreatif kita bisa kita bikin merger dengan kemampuan super komputer yg terhubung langsung ke otak
Berhayal….

Bayangkan ketika hampir semua serba murah dan terjangkau, 50% pekerjaan dilakukan robot & komputer, dan Dunia dipenuhi orang2 yg “The Have dan Super Have”, tidak ada lagi yg “The Have Not”, kira2 anda masih “Takut Terdisrupsi” atau Semangat dan Optimis?

Bahkan kalaupun perusahaan dan pekerjaan kita saat ini sedang, atau akan tergulung habis oleh para disruptor, mestinya kita tidak perlu pesimis, takut atau marah. Mestinya kita bahagia karena revolusi teknologi ini astungkara akan berakhir indah. Dan pekerjaan kita yg hilang itu cuman sebuah pertanda bahwa kita harus segera punya keahlian baru, kreativitas dan pekerjaan baru yg matching dengan kebutuhan zaman.

Era disrupsi yg penuh gejolak ini adalah era transisi yg harus diterima dengan semangat dan optimisme, sebelum kita masuk era abundance. Nah pertanyaan paling pentingnya sekarang:

1. Peluang apa aja yg akan hadir di era Abundance?

Kemampuan menangkap peluang ini akan menentukan kita akan menjadi The Have atau Super Have (tenang, tidak akan ada yg jadi “The Have Not” yg kelaparan atau kurang sandang, pangan, papan).

2. Apa saja yg perlu kita persiapkan untuk menangkap peluang2 dahsyat ini?.

Siapkan diri, keluarga dan perusahaan kita saat era itu belum datang. Jangan baru siap2 saat dia sudah datang (seperti kasus demam “era disruption” saat ini hehe). Belajarlah berenang sebelum banjirnya datang.

3. Apa saja efek samping yg akan terjadi, dan bagaimana kita mengatasinya bersama2?

Tentu saja seperti segala hal baik yg lain, kita tidak boleh tutup mata bahwa akan ada efek samping yg perlu kita antisipasi. Tapi tidak perlu khawatir berlebihan, kita sebagai umat manusia sebagai mahluk spiritual selalu berhasil mengatasi tantangan setiap zamannya masing2.

Mari kita diskusikan di tulisan2 berikutnya, karena saya tahu di jaman NOW ini, kita males baca tulisan2 yg panjang.

Mari tebarkan Optimisme, sahabatku…
Pastikan tetap selaras
Mind-Set (pola pikir) dan Heart-Set (suasana batin) saatnya kita fokus ke Disruption Vs Abundance.

Salam berkelimpahan

Jayeng saputra